[Ficlet] Lost in Memories

lost-in-memories

Lost in Memories

~.~

Author             : Nissa Tria

Cast                 :

  • SHINee Minho as Choi Minho
  • f(x) Sulli as Sulli Choi Jinri
  • Quincy Lee (OC)

Genre              : Romance, friendship, [little bit] sad romance, etc.

Length             : Ficlet (1148 words)

]Rate               : [PG-15]

Disclaimer       : Apologize me about the OOC (Out Of Character), typo(s), and mistake(s). I not owned the canon, they’re God’s, their family’s, and their fans’, but plot dan OC is mine. Thanks for not copy-paste my plot (plagiarism), and don’t bash me.

~.~

Cinta hanya punya ruang untuk dua orang, bukan tiga.

~.~

Lost in Memories

A Ficlet by. Nissa Tria © 2013, All Rights Reserved

~.~

Suasana hari itu begitu cerah. Matahari bersinar lembut di balik awan putih yang terus bergerak seirama angin yang berhembus lembut di langit biru. Burung-burung terbang ke sana ke mari seraya menyenandungkan rasa syukur mereka pada Tuhan terhadap cuaca yang begitu menyenangkan dan bersahabat. Berbagai macam warna dan jenis bunga mekar dengan indah, seolah saling berlomba untuk menyambut lembutnya cahaya matahari.

Kaki seorang gadis berkacamata melangkah riang dengan penuh semangat. Ia menenteng sekeranjang bunga segar yang baru saja dipetik dari kebun bunga bibinya. Rambutnya melambai indah diterpa hembusan lembut angin—bahkan topinya hampir ikut terbang bersama angina kalau saja ia tidak cepat-cepat menggerakan sebelah tangannya untuk menahan topi tersebut, jemari tangannya sesekali tergantung di udara utuk menggapai seekor kupu-kupu atau serangga terbang yang cantik terbang melewati kepalanya. Senyum manis selalu terlukis di wajahnya.

Ia memamerkan senyum manisnya terus-menerus bukanlah tanpa alasan. Alasannya tidak lain dari sebuah janji yang telah direncanakannya dan dua sahabatnya itu.

Dua tahun lalu ia telah lulus dari  sekolah menengah, itu artinya mereka telah berpisah sekitar dua tahun. Mungkin tugas kuliah yang menumpuk, dosen yang menyebalkan dan juga jadwal kuliah super padat adalah hal yang menjadi tersangka utama dari kerenggangan hubungan di antara dirinya dan dua sahabatnya itu. Selama dua tahun terakhir ini ia hanya dapat mendengar suara kedua sahabatnya melalui telepon, atau bertatap muka melalui webcam. Dan itu membuat rasa rindu akan kebersamaan mereka menguasai segalanya. Sejujurnya, ia ada kelas siang ini, tapi ia rela meninggalkan kelas penting yang menyebalkan itu hanya untuk bertemu sahabatnya. Ini adalah pertemuan langka, tidak boleh disia-siakan, begitulah pikirnya di sepanjang perjalanan dari kampus ke tempat ini, kebun-entah-milik-siapa yang selalu menjadi tempat nongkrong tetap baginya dan kedua sahabatnya.

Tinggal sekitar beberapa langkah lagi, ia akan bergabung bersama kedua sahabatnya yang rupanya telah duduk di bawah sebuah pohon rindang.

Ia hendak melangkahkan kakinya lagi, tapi kini tampak kedua sahabatnya tengah tersenyum satu sama lain, saling bertukar pandang mesra serta bibir yang menggumamkan sebuah cerita dalam volume rendah, seolah hanya mereka berdua yang mengetahuinya, dan setelah cerita itu usai keduanya sama-sama terkikik kecil.

Senyum yang awalnya terlukis manis itu perlahan hilang, ikut tertelan bersama salivanya yang terasa kesat dan pahit di tenggorokannya. Kakinya melangkah mundur satu langkah. Ini adalah momen romantis kedua sahabatnya yang sama sekali tidak boleh diganggu olehnya.

Pertemanan mereka kini telah berubah. Ia seharusnya telah menyadari hal ini sejak dulu. Choi Minho dan Quincy Lee telah ditakdirkan untuk bersama, dan ia tidak boleh membantah hubungan di antara kedua sejoli yang merupakan sahabatnya itu.

Ia pun melangkahkan kakinya mundur sekali lagi.

Satu langkah …

Dua langkah …

Tiga langkah …

Laju langkah kakinya makin cepat. Gadis itu berlari dengan perasaan kosong dan juga mata sipitnya yang mulai mengabur karena air mata telah mengembang di pelupuk matanya.

Dulu, mereka selalu bersama, kapanpun, di mana pun, dan dalam situasi apapun. Tapi sekarang?

Pertemanan memang milik mereka bertiga. Tapi bisakah kedua sejoli itu memikirkan perasaannya?

~.~

Cahaya matahari menelusuri sebuah kamar melalui celah-celah gorden, menjatuhkan cahanyanya tepat di wajah manis seorang gadis, membuat sebuah mimpi yang bermain-main bersama gadis itu lenyap seketika. Ia kemudian sadar dengan mata terpejam.

Memori yang kembali terulang, desah gadis itu dalam hatinya seraya menghela napas. Jemarinya tergerak memijit pelan dahinya yang terasa basah. Oh—tidak, rupanya yang basah bukan hanya dahinya, tapi juga mata dan kedua pipinya.

Oh Tuhan, hanya karena itu aku menangis? ucap gadis itu dalam hatinya. Lalu perlahan-lahan ia membuka kelopak matanya. Sinar matahari yang menyilaukan menyambutnya, membuat kelopak matanya mengerjap-erjap.

Choi Minho, Quincy Lee, dua nama yang muncul ketika memori itu kembali menghantui malamnya, membuat tidur yang diharapkannya bisa membuat raganya beristirahat sejenak justru menjadi sangat melelahkan.

Ia kembali mendesah lelah. Kepalanya ia jatuhkan tepat ke samping kanannya, lalu memejamkan matanya sekali lagi. Ia ingin kembali tidur dengan tenang dan nyenyak tanpa harus dihantui oleh memori masa lalunya itu.

“Sulli?”

Sebuah suara memanggilnya, membuat itu sontak menolehkan kepala untuk melihat siapa itu.

Senyum mengembang getir di wajahnya untuk membalas sebuah senyum yang telah disunggingkan manis oleh sang pemilik suara. Entah kenapa, rasa haru dan juga bahagia kini terbit di hatinya, menenggelamkan rasa resah yang sebelumnya sempat menghantuinya hanya karena memori itu.

Aigoo~ kau menangis! Uljimayo, Sulli-ya … apakah aku bermain terlalu keras tadi malam?”

Tawa Sulli—yang sedikit hambar—pecah seketika, tapi wajahnya bersemu merah karena lelaki ini telah mengingatkannya tentang kejadian semalam. Pandangannya yang sedikit kabur menatap wajah penuh kekhawatiran di dekatnya itu dengan mata berbinar bahagia. Jemarinya terulur menyentuh pipi lelaki itu.

Terima kasih, terima kasih karena telah memilihku dan meninggalkan gadis itu.”

Sebuah kalimat panjang yang sangat ingin diutarakannya pada lelaki itu, tapi semuanya tersendat di tenggorokannya. Ada sesuatu yang membuat ia segan mengatakannya pada pemuda itu.

Aniyo, Minho Oppa,” akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Sulli. Ia menyunggingkan senyum manis untuk membalas tatapan heran dari Minho. Tapi tatapan heran itu tidak berlangsung lama karena Minho hanya mengangkat bahu, lalu ikut tersenyum menatap Sulli.

Jemari Sulli melepas tangan Minho yang melingkar di pinggangnya. Menyunggingkan senyum, Sulli memperbaiki posisinya menjadi duduk bersila di atas kasur seraya menatap Minho yang telah berposisi sama sepertinya.

Mereka kini berhadap-hadapan, saling menatap dan berkomunikasi dalam bisu. Kedua pasang tangan mereka saling menggenggam satu sama lain, begitu pun senyum yang tak pernah bisa terlepas dari bibir mereka. Minho mendekatkan kepalanya pada wajah Sulli, mengarahkan pandangan matanya pada bibir mungil Sulli yang tipis dan sewarna plum.

Chu~

Bibir Minho menyapu lembut bibir Sulli dengan singkat. “Oppa mandi dulu, ara?” ucapnya dengan nada manis, mirip seperti seorang ayah yang akan pergi membuat kejutan untuk putrinya.

Sulli mengangguk singkat, sementara matanya mengikuti raga Minho yang dalam beberapa detik telah berdiri di belakangnya, membuat ia harus berbalik untuk dapat melihat tubuh bagian atas Minho yang telanjang.

Oppa …”

Minho mulai mengambil langkah ketika saja Sulli mendadak memanggilnya. Ia berbalik, menatap Sulli dengan alis terangkat.

“Ada apa?” tanya Minho tenang, sementara Sulli menekan bibirnya, ia menunduk dalam. Terkutuklah ia! Sekarang ia tidak tahu akan berkata apa pada lelaki itu. Oh, siapapun, tolong kubur Sulli sekarang!

Selamat bermain dengan air sabun? Oh, itu terdengar bodoh.

Semoga mandimu menyenangkan! Terdengar lebih bodoh dari yang tadi.

Aku mencintaimu Tidak! Itu terlalu blak-blakan, dan setelah itu Minho pasti akan menggodanya habis-habisan. Karena tak biasanya Sulli seblak-blakan itu dalam mengungkapkan perasaannta pada Minho, sekalipun Minho adalah suaminya sendiri.

“Terima kasih,” setelah beberapa detik berpikir, akhirnya dua kata itulah yang akhirnya keluar dari bibir tipis Sulli. Gadis itu tetap menunduk, membuat rambut panjangnya menjuntai menutupi paras cantiknya yang dihiasi dua rona merah di pipinya.

Minho berdiam di atas kakinya. Ia mengangkat sebelah alisnya, menatap Sulli heran. “Untuk?”

Sulli tetap menunduk, tapi bibirnya terbuka untuk mengatakan sebuah kata. “Segalanya.”

Segalanya; senyum menenangkan yang selalu hadir untuk menenangkan hatiku, pelukan hangat yang selalu hadir untuk menghangatkan jiwa juga ragaku, genggaman penuh kasih sayang yang membuatku merasakan getaran-getaran kasih sayang di hatiku, tatapan teduh berbinar bintang yang memberiku sebuah keyakinan kuat untuk menjalani sesuatu, bibir manis yang selalu mengucapkan kata-kata manis, menggoda, bahkan kata-kata motivasi, dan juga raga tinggi tegap yang selalu hadir di samping tubuhku, bagai tameng kokoh yang akan melidungiku selalu.

Perlahan seulas senyum tipis
tersungging di wajah Minho yang tampan. “Aku juga,” jawabnya pelan, lalu melangkah menuju kamar mandi diiringi senyum manis yang juga tersungging di bibir Sulli.

Mungkin memori itu akan terus terkenang, akan terus terbayang di kepalanya, tapi satu yang harus Sulli ingat; Minho adalah miliknya, dan ia adalah milik Minho. Ya, sampai kapan pun Minho akan tetap menjadi miliknya, belahan jiwanya, separuh napasnya, dan juga dunianya. Begitu pun sebaliknya.
Jadi sebenarnya apa yang selalu Sulli takutkan?

.::FIN::.

Author’s Note :

Well, well, well, jangan tertawakan aku karena fiksi ini. Sumpah ini gaje pake banget =.= jadi maklumi yah, Glace juga gaje kok~ *eh

Eniwey, berhubung banyak banget yang minta sequel dari “Having You” yang niatnya cuman ficlet doing, jadilah Glace buatkan ini. Sebenernya ini hampir gak ada sangkut-pautnya sama HY, tapi yah, sudahlah, yang penting kopelnya MinSul #digeplak

Oke, aku tunggu kritik dan sarannya^^ oh iya! Gimana menurutmu tentang poster itu? Poster pertama yang Glace buat untuk fiksi Glace sendiri (biasanya bikinin buat orang), hihi …

Sincerely,

Nissa Tria (Glace)

2 responses to “[Ficlet] Lost in Memories

  1. Bagus!! Aku suka suara-suara Sulli, menyentuh. Walaupun ini cum cerita yang pendek, tapi aku sudah kayak baca ending novel.🙂

    Nah, ini ada saran utkmu..
    “Oh, siapapun, tolong kubur Sulli sekarang!” –> sebaiknya ubah ‘Sulli’ menjadi ‘aku’ biar kalimat ini lebih pas.

Speak Out!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s