[FF Request] Truth or Dare

By. Nissa Tria

Cover by. Renepott @ ART Factory (http://wemakeartfactory.wordpress.com)

Ficlet (1999 words) || Romance, friendship, sad, angst || PG-13

Cast :b

  • EXO-M Luhan as Xi Luhan
  • Juniel Choi (female soloist) as Min Junhee
  • Summary :Truth or Dare” sebuah permainan yang begitu sering kita lakukan. Permainan yang dapat membuat kita melakukan sebuah hal paling memalukan di dunia, dan juga permainan yang dapat membuka rahasia yang telah dijaga selama bertahun-tahun. “Truth or Dare” adalah permainan yang begitu berkesan dalam hidupku, karena tanpa aku sadari, lewat permainan ini, aku bisa … aku bisa …

    Note : Just enjoy this fiction ^^  oh ya, aku hanya menggunakan Juniel sebagai model dari “Min Junhee”, jadi anggaplah Junhee di sini adalah dirimu ^^

    Truth or Dare

    A Ficlet by. Nissa Tria © 2012, All Rights Reserved

    Entah atas dorongan semacam apa yang membuat aku datang ke sini, ke sebuah tempat di mana ada sebuah rumah tua berdiri dengan megahnya. Walaupun rumah ini sudah tua dan tak terurus, bangunan ini berdiri kokoh tanpa ada lecet sedikit pun, terkecuali catnya yang termakan usia dan juga beberapa tanaman merambat yang membuat rumah ini terlihat sedikit menyeramkan—tapi tidak untukku.

    Karena itulah, aku berani melangkahkan kakiku menuju ke dalam rumah itu dengan perlahan. Aku tidak ingin ada satu serpihan benda tajam pun yang melukai kakiku. Itu menyakitkan, dan aku pernah merasakannya.

    Mataku memandang dalam rumah ini dengan takjub. Luarnya sudah megah, dan dalamnya lebih dari itu! Bahkan mungkin kata “megah” tidak dapat mendeskripsikan betapa kerennya dalam dari rumah ini.

    Semua benda masih tertata rapi di tempatnya dan kebanyakan barang ditutupi oleh selembar kain putih untuk melindunginya dari debu dan segala jenis kotoran lainnya

    Senyum mengembang begitu saja di wajahku, begitu membayangkan betapa beruntungnya orang yang sempat tinggal di rumah semewah ini. Rumah ini memiliki dua lantai, dan aku tertarik dengan lantai atas, entah kenapa.

    Sesampainya di anak tangga paling atas, aku disambut oleh sebuah pintu geser. Segera kugeser pintu itu dengan sangat perlahan agar tidak berderit terlalu keras.

    Lagi-lagi aku terkesima untuk kesekian kalinya melihat isi dari rumah ini. Lantai ini tidak dibagi menjadi banyak ruangan seperti lantai bawah, melainkan menjadi satu ruangan besar. Karena aku melihat tempat tidur di sudut ruangan, aku yakin ruangan ini dulunya adalah sebuah kamar. Di sini tidak banyak barang yang tersisa, hanya ada satu tempat tidur, sebuah rak buku yang hanya diisi oleh tiga buah buku, dan juga sebuah meja pendek di tengah ruangan.

    Kulangkahkan kakiku pelan, kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan ini—berharap menemukan suatu hal yang dapat menarik perhatianku. Meskipun ruangan ini cukup bersih dan rapi, aku tetap harus berhati-hati.

    Tuk

    Aku menghentikan langkahku. Rupanya kakiku tak sengaja menyentuh sesuatu. Kutundukkan kepalaku untuk melihat benda itu. Dan ternyata itu hanyalah sebuah botol kaca berwarna hijau—aku yakin itu bekas botol bir.

    Kuambil botol itu dan mengamatinya dengan cermat. Dan saat itu juga, sebersit memori memenuhi kepalaku …

    ~.~

    Gadis itu mengerucutkan bibirnya kala sebuah coretan berwarna merah menodai pipi tembamnya. Jemari lentik itu menelusuri sebelah pipi tembamnya yang sekarang ada tiga coretan serupa, lalu memberenggut.

                “Kau curang!” ucapnya keras dengan nada tidak senang, jari telunjuknya menuding tepat pada hidung seorang pemuda di hadapannya yang tampak tertawa puas.

                “Curang bagaimana? Kau memilih dare, ya sudah aku suruh dirimu untuk berlapang dada menerima apa yang aku lakukan.” ujarnya dengan sangat polos lengkap dengan senyum menahan tawanya yang tampak menggemaskan.

                Gadis itu mendengus, dikibaskannya beberapa kali sebelah telapak tangannya dengan cepat di depan wajah pemuda itu, “tunggu saja pembalasan dendamku, Xiao Lulu.” ucapnya, memutar botol hijau di atas meja pendek itu.

                Si pemuda tersenyum mendengar kata “Xiao Lulu”—yang merupakan panggilan “sayang” itu—meluncur dari bibir si gadis seraya duduk tenang menunggu botol itu berhenti berputar, tapi berbeda dengan si gadis. Ia tampak sedikit gemas melihat botol itu tak kunjung berhenti berputar.

                Hingga tiba pada saat botol itu berhenti berputar, si gadis berteriak ke senangan di dalam hatinya seraya mengunggingkan sebuah senyuman penuh kemenangan di wajahnya, karena ternyata Dewi Fortuna memihaknya.

    Ia melipat kedua lengannya di depan, “truth or dare?” tanyanya dengan nada arogan, yang membuat pemuda di hadapannya terkikik geli melihatnya.

                “Kau tahu? Kau tidak pantas bersikap sok arogan seperti itu.” lagi-lagi si pemuda berucap polos diakhiri dengan kikikan kecil yang memuakkan di teliga si gadis.

                “YA! Berhentilah menanggapi sikapku!” gadis itu berucap keras untuk kedua kalinya pada si pemuda yang ditanggapinya dengan kepala mengangguk-angguk patuh meskipun tak dapat disingkirkan rona geli pada wajahnya.

                “Baiklah …” menghela napas sebentar, gadis itu kembali melanjutkan perkataannya, “truth or dare?” ucapnya mengulangi pilihan yang tadi ia ajukan.

                Terlihat pemuda itu berdehem, melipat lengannya di depan dada, lalu memasang ekspresi berpikir yang membuat gadis di depannya jengah—itu terlihat dari kedua bola matanya yang diputar sebal. Pemuda itu selalu bertele-tele, dan ia benci akan hal itu.

                “Or.”

                Gadis itu melotot mendengar sebuah kata bodoh dari mulut pemuda itu. Tangannya terkepal erat di atas pangkuannya. Mata gadis itu terlihat mengkilat marah menatap si pemuda yang tampak masih tenang di tempatnya. Napasnya memburu menahan emosi yang meluap di dadanya.

                “Tidak ada pilihan ‘or’, Bodoh!” untuk ketiga kalinya, gadis itu berteriak di depan wajah si pemuda, tapi kali ini ada nada frustasi yang menyertainya.

                Dengan wajah santai, pemuda itu menimpali, “tapi kau tadi mengatakan ‘truth or dare’ ya … agar aman aku jawab ‘or’ saja.”

                “Xi Luhan, jangan buat aku marah besar padamu! Jawab dengan serius.” gadis itu berucap lebih frustasi dari sebelumnya, ditambah adegan mengacak rambut keemasannya yang membuat gadis itu tampak semakin frustasi.

                “Kekeke … maafkan aku, aku akan lebih serius kali ini.” Luhan terkikik geli seraya menyodorkan jari kelingkingnya sebagai janji bahwa dirinya akan menjadi serius menjawab pilihan gadis itu.

                Dengan senyum mengembang, gadis itu meraih jari kelingking Luhan dan jari kelingking keduanya bertautan.

                “Truth or dare?”

                “Tanda tanya.”

                Kening gadis di depannya berkerut mendengar ucapan Luhan yang terdengar bodoh di telinganya. Ia tahu, Luhan ingin menguji kesabarannya lagi.

                “Kau ingat janjimu, huh?” nada bicara gadis itu terdengar merengek. Ia terlanjur frustasi akan sikap Luhan yang terus mempermainkannya.

                Luhan tersenyum, “baiklah, aku pilih dare.” ucapnya mantap diiringi sebuah senyuman manis.

                Senyum manis kembali mengembang di wajah si gadis, “tembak aku, katakan jika kau mencintaiku.” ucapnya singkat, lengkap dengan senyumannya yang terganti oleh sebuah seringaian jahil.

                Luhan mengangkat sebelah alisnya, lalu beberapa detik kemudian,ia membuang wajahnya, “tidak mau!” tolaknya dengan keras.

                Junhee mendengus, gadis itu mengerucutkan bibirnya manja, “harus mau! Aku tidak pernah menolak dare yang kau berikan padaku sememalukan apapun itu!” ucapnya tak kalah keras dari Luhan.

                “Tapi aku memiliki hak untuk menolak!”

                “Ini hanya permainan, Xi Luhan, jangan anggap ini serius, karena aku yakin jika Yoona Unni, pacarmu itu pasti akan mengerti!”

                Luhan mendongak, ditatapnya Junhee dengan mata terbelalak tak percaya, “aku tidak berpacaran dengan sunbae!” tegasnya pada gadis itu dengan nada rendah. Ia tidak ingin membentak Junhee lagi.

                “Terserahlah! Yang penting lakukan dare yang aku lakukan tadi, dan karena kau memberontak, aku tambah dare-mu menjadi dua.” Junhee berucap serius seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

                “Mana bisa begitu!” Luhan cemberut.

    “Itu karena kau menolak dare dariku, jadi sebagai hukuman kau harus menerima tambahan dare dariku!” Junhee berucap keraskepala seakan tak mau kalah dengan apa yang Luhan bantah.

    Luhan mendecak kesal. Ia tahu tidak ada gunanya membantah Junhee jika gadis itu telah berucap keraskepala. Junhee adalah gadis yang memiliki pendirian tetap, jadi akan sulit untuk membuat gadis itu berubah pikiran.

    Luhan menghela napas, “jadi apa dare keduamu itu, Juniee?” tanyanya menyerah. Dari sudut matanya terlihat jika senyum penuh kemenangan terlukis di wajah Junhee mendengar Luhan mengucapkan panggilan “sayang” itu.

    “Aku mau kau menulis surat cinta, dan kau harus menaruhnya ke kotak surat gadis yang kau suka.” Junhee berucap pasti, masih dengan senyum kemenangan terlukis sempurna di wajahnya, membuat Luhan membelalak. Matanya menatap Junhee dengan tatapan tidak setuju berlebihan.

    “Setiap ada penolakan maka dare-mu akan ditambah.” Junhee berucap cepat ketika melihat rahang Luhan terbuka sedikit untuk bersiap mengungkapkan ketidaksetujuannya.

    Luhan mendesah, “whatever you want, Juniee …” ucap Luhan mengakui kekalahannya dalam membantah ucapan Junhee, dan dilihatnya gadis itu hanya tersenyum bahagia setelah mendengarnya.

    Beberapa saat kemudian, Junhe tergelak merasakan tangannya digenggam Luhan. Mata bulan sabitnya menatap Luhan dengan mata menyorotkan sinar kaget sekaligus bingung, berkebalikan dengan Luhan yang menatapnya dalam.

     “Juniee-ku yang cantik, manis, lucu, dan menawan, ..”

    Tanpa sadar Junhee menahan napasnya mendengar kata-kata manis itu meluncur dari bibir Luhan. Ia merasakan ketulusan yang menyertai nada bicara Luhan sehingga ada getaran yang sampai ke hatinya, lengkap dengan sejuta pesona pemuda itu yang tanpa sadar telah membuatnya lumer.

    “Aku mencintaimu, sebagai seorang gadis, bukan sebagai sahabat.” Luhan kembali melanjutkan kata-katanya.

    Kali ini Junhee telah bangun dari lamunanya. Ia tertawa keras yang begitu ketara dipaksakan. Ditariknya cepat kedua tangannya dalam genggaman Luhan, lalu semakin memperkeras tawanya, “serius sekali.” cibirnya tanpa menatap wajah apalagi mata Luhan—ia terlalu gugup untuk melakukan hal itu. Dipalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah yang telah mewarnai pipi tembamnya.

    Suasana hening nan canggung dalam seketika menguasai keadaan sekitar mereka. Keduanya tampak berada di atas duduknya, dan sibuk dengan pikirannya masing-masing tanpa ada yang berpikir untuk membuka suara terlebih dahulu.

    Kring!

    Keduanya tersentak mendengar dering telepon di kamar ini. Junhee yang berada dekat telepon itu pun segera beranjak dan menerima telepon itu,

    Yeoboseyo, dengan keluarga Xi, di sini Junhee berbicara.” Sapa gadis itu pada penelepon di seberang sana. Diliriknya Luhan yang tampak berdiam diri di atas tempat duduknya.

    “Oh, ne, Ahjumoni, akan aku sampaikan pada Luhan, .. ya, kkeunho (kututup teleponnya).” diletakkannya gagang telepon itu pada tempatnya. Junhee melangkah pelan menuju Luhan.

    Ahjumoni menyuruhmu ke bawah, ada yang ingin dibicarakan katanya. Aku pulang ya, bye …” pamit Junhee seraya tersenyum lebar. Ia merapikan tasnya, lalu berjalan keluar kamar.

    Luhan tertegun di atas duduknya. Di hatinya sekarang berkecamuk berbagai macam perasaan, hingga kepala itu hampir meledak rasanya.

    Luhan mengangkat kepalanya menatap sendu ambang pintu kamarnya, terlihat Junhee masih di sana, berdiri membeku.

    Ia berharap Junhee berbalik seraya tersenyum manis padanya. Lalu dengan begitu dirinya bisa dengan mudah merengkuh tubuh mungil gadis itu dalam pelukannya, dan mengatakan salam perpisahannya dan juga tentang perasaannya yang sebenarnya.

    Tapi ternyata Junhee tidak berbalik setelah itu. Kaki mungilnya berjalan cepat menuruni tangga.

    Luhan menghela napas. Matanya menatap pada sebuah kertas di dalam botol hijau itu. Senyumnya mengembang perih. Sepertinya hanya itulah satu-satunya cara agar gadis itu mengetahui sebuah kebenaran yang selama ini disembunyikannya sebelum dirinya pergi.

    ~.~

    Dear, Juniee …

    Kita berteman, bukan? Ho~ aku yakin kau akan menjawabnya dengan pasti jika kita hanya berteman. Masih ingat perkataanku tadi? Masih? Aah … kumohon jangan tertawakan aku, karena itu memang benar adanya. 

    Perasaan itu tumbuh dari sini, .. dari sesuatu di balik dadaku yang selalu berdetak kencang ketika aku bersamamu.

    Kata-kataku terdengar bodoh, bukan?

    Haha terserahlah apa katamu. Tapi yang jelas kau harus menyelesaikan membaca surat ini, karena ada yang harus kau ketahui.

    Aku punya penyakit, kanker darah alias leukimia. Kau kaget? Sepertinya iya. Ini adalah sebuah penyakit yang sangat mematikan karena penyakitku ini telah mencapai stadium akhir.

    Aah … apa kau masih ingat ketika kita sedang jogging bersama dan kau mengatakan jika bibirku pucat? Pada saat itu aku mengatakan jika anemiaku tengah kambuh, padahal tidak. Itu adalah bagian dari gejala penyakitku.

    Pada saat itu ibuku melarangku mati-matian dan malah menyuruhku untuk tetap beristirahat di kamarku karena beliau tahu kau pasti mengerti. Tapi segera kutepis kata-kata dari ibuku itu. Aku tidak ingin mengecewakanmu, jadilah aku pergi untuk jogging bersamamu.

    Kau tahu? Ternyata kekeraskepalaanku itu telah memperpendek napasku, telah memperpendek waktuku untuk terus bersamamu, dan telah memupuskan impianku untuk terus bersamamu hingga kita tua nanti.

    Kemungkinanku untuk sembuh kini telah kurang dari 50%. Dokter juga mengatakan hidupku sudah tak lama lagi.

                Hei! Jangan menangis! Hapus air mata yang menggenang di pelupuk matamu itu. Wajahmu terlihat jelek jika menahan tangis seperti itu.

    Aku ingin kau melanjutkan hidupmu seperti semula, seperti sebelum aku ada dalam kehidupanmu, tapi teruslah simpan memori indah kita dalam memorimu, jangan hapus semua kenangan kita.

    Aku … pasti akan merindukanmu, dan semua yang ada di dalam dirimu—terutama tatapan ceria nan hangat di manik matamu, mata favoritku.

    Aku berharap kau juga merindukanku. Tapi tolong, jangan rindukan aku berlebihan sampai kau berpikir untuk menyusulku, karena itu akan membuatku sedih.

    Percayalah bahwa aku akan selalu berada di sampingmu, menyertai hari-harimu, karena aku akan hidup di hatimu, untuk selamanya.

    With Love,

    Xi Luhan

    ~.~

    Kakiku melemas, seakan tulang penopang tubuhku itu remuk seketika, sehingga aku hanya dapat duduk menangis dalam diam. Tanganku bergetar memegang kertas usang ini, begitu juga dengan tubuhku ketika air mata nakal itu jatuh menuruni pipku. Ada sesuatu di balik dadaku yang berdenyut perih, seakan ada ratusan jarum tajam yang menusuk-nusuk benda vital itu.
    Aku ingin menagis keras, sangat keras sampai aku tidak lagi dapat menangis, karena itu akan membuatku lebih baik setelahnya. Tapi satu hal yang harus aku ingat adalah dirinya yang akan terus bersemayam di hatiku, untuk selamanya, meskipun raganya tidak dapat kusentuh …

    .::FIN::.

    16 responses to “[FF Request] Truth or Dare

    1. wahhhh.. keren-keren….
      sad ending, aku suka kalau sad ending, apalagi kalau ada yang mati😄
      Sama kayak aku, suka main truth or dare…
      kalau milih dare pasti temen minta yang truth -_-” *curcol*

      • Ini sebenernya produk gagal -_- endingnya blm dimodifikasi(?) lagi gegara buru” pas posting-nya *curcol*
        Aku juga sering loh maen truth or dare, tapi temen”ku pasti maksa” buat pilih dare soalnya mereka pasti udh punya dare yg luar biasa memalukan -_- *ikutancurhat*

      • 😄 gagal? menurutku dah bagus kok…
        kalau temenku sih, misalnya pilih dare itu dah biasa… jadi aku kan paling bisa menyembunyikan sesuatu dari orang lain.. dalam artian, ga nampak bahwa aku nih begini, begitu…. jadi temenku maksa aku milih truth -_-” biar rahasiaku kebongkar semua ._.
        kalau kamu dipaksa pilih dare emangnya disuruh apa?

        • Mereka suka mempermalukan aku ;_;
          Pernah waktu itu dapet dare dan disuruh maen prosotan di McD, padahal masih pake seragam dan banyak anak kecil. Kan malu -_- terus, kita itu seangkot, dan sebelumnya temenku itu udh dapet dare, dan dia dikasih buat ngasih ongkos enam orang yang receh! Semuanya itu koin 200rupiah -_- dan bayangkan wajah cengo si supir angkot pas nerima uang ongkos itu .-.

        • McD itu apaan lagi?
          ngapa sih banyak sekali kata2 yang ga kuketahui artinya? -___-”
          ya ampun… kejam2 sekali darenya ._.v kalau kami yang kayak begituan ga bisa.. kami pake jemputan yang bayarnya langsung satu bulan… jadi biasanya langsung 150.000 / 100.000 gitu… kagak bisa ngerjai pake yang begituan…
          kalau kami sih nge-darenya, misalnya… disuruh bilang “I LOVE YOU” ke orang lain -___- jadi ada yang disuruh bilang gitu ke mantannya…😄 untungnya aku belum pernah pacaran..

        • McD itu McDonald’s u.u”)a
          Kalo kita sih, dijemput sama mama/papa/kakak/supir atau enggak naek angkot ato ojek, yah gitu, belajar mandiri(?)
          Kalo bilang “i love you” sudah terlalu biasa bagi temenku u.u

        • ohhh..
          sudah terbiasa?o_O berarti kejam-kejam amat darenya.. bilang yang begituan aja, aku gak rela😄

        • Makanya itu, kalo mereka kasih truth, tapi gak mau dijawab, mereka bakal kasih dare-nya dobel; jawab pertanyaan sama dipermalukan di depan umum. Makanya itu, kalo maen truth or dare sama mereka itu “berbahaya” LOL

        • Whatt?!!? double?? kejam amat… kalau aku sih.. misalnya ditanya tentang truth, aku gak bakal jawab… kalau mereka tetap maksa.. yahh kabur dehh. LOL

        • iya,, enaknya nonton aja..
          Glace, kamu kan bisa bikin art..
          kenapa ga ngepost png atau psd gitu?

      • Haha… sebetulnya endingnya itu blm dimodifikasi(?) jadi gak tau tuh Luhan mati apa enggak :p
        Aku srg juga loh main truth or dare sama temen”ku, mereka itu kalo ngasih dare pasti aja yg gila” dan malu-maluin abis -_- *ikutancurhat*

    Speak Out!

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s