[FF Request] Puzzle of Life–Prologue

Puzzle of Life

Author             : Nissa Tria

Cover by          : Hannie @ Miracle Pops! (www.elfhottestb2uty.wordpress.com)

Requested by   : Annisa Khaerani / Annisa Park Hyemi

Main Casts      : Super Junior Eunhyuk as Lee Hyukjae

Super Junior Donghae as Lee Donghae

Park Hyemi (OC)

Support Casts : IU as Lee Jieun

Super Junior Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Genre               : Angst, gloomy romance, sad

Length              : Chaptered

Rating               : [PG-13] Parents Strongly Cautioned

Copyright        : All rights reserved to the author of the Fan Fiction, Nissa Tria © 2012.

Disclamer        : FF ini murni hasil pemikiran otak penulis, dan bila kamu mendapatkan kesamaan baik tokoh, karakter, dsb. penulis sama sekali tidak tahu-menahu tentang itu. Semua canon dalam FF ini adalah milik Tuhan, keluarga juga para penggemarnya, sementara Park Hyemi adalah nama Korea dari Kak Annisa Khaerani, dan Kak Hannie hanya menggunakan foto Ulzzang Hyojin untuk cover.

PLOT IS MINE!!! Please, don’t re-share my FF without my permission!!! You can be a silent reader, but please, .. please don’t copy and claim my FF is yours!!!”

Summary         : What would you do if someone in your past to come, but you do not remember Him at all?

Soundtrack      : Only U – Super Junior


Puzzle of Life–Prologue

Matahari telah tenggelam di ufuk barat, jangkrik dan segala binatang malam lainnya mulai bersuara, namun gadis itu tetap pada pendiriannya. Ia masih saja duduk di tepian danau. Tidak mempedulikan udara yang semakin membeku, dan juga tidak mau peduli lagi dengan besarnya kemungkinan jika kesehatannya akan memburuk.

Gadis itu masih betah menikmati setiap hembusan angin yang membelai wajahnya kasar. Ia masih betah dengan kesendirian sekaligus kesunyian di tepi danau itu. Damai, sunyi, dan sendirian, ketiga alasan itulah yang menjadi sebuah alasan kuat untuk ia betah duduk berlama-lama di tepian danau tersebut.

Sesekali gadis itu mencelupkan kakinya pada air danau, merasakan sensasi dingin membekukan dari air danau. Suara beriak air terdengar indah di telinganya ketika kedua tangannya mengobok kasar air danau tanpa peduli apakah pakaiannya basah atau tidak. Ia tertawa lepas. Segala jenis pikiran dan beban di pundaknya seolah-olah menguap, tergantikan oleh letupan semangat baru di dadanya yang membuat senyum manis itu selalu terlukis indah di wajahnya, membuat garis wajah ketenangan mulai tergambar sedikit demi-sedikit di wajahnya. Ia bahagia, lepas, tentram, dan damai. Sensasinya bahkan lebih ‘indah’ dari mabuk karena menghabiskan lima botol anggur.

Semakin lama, gadis itu semakin tenggelam dalam kesendiriannya. Ia semakin tidak peduli dengan udara, dan juga kesehatannya, seakan-akan ia hanyalah sebuah boneka Barbie hidup yang tidak perlu memerhatikan kesehatannya. Tidak ada setitikpun rasa bosan atau lelah yang menghampirinya.

Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap bulan yang kini berada di depan matanya. Indah, ia berbisik dalam hati seraya tangannya menggapai-gapai sinar rembulan yang kini menyinari wajahnya lembut.

Namun tiba-tiba kesunyian dan kesendirian gadis itu terganggu. Ia merasa kesal dan langsung mengatupkan bibirnya, lipatan keningnya semakin dalam, kedua tangan dan kakinya mendadak berhenti mengobok air danau ketika melihat ada sesuatu yang menarik perhatiannya selain sinar rembulan tersebut ; sesuatu yang bergerak hingga menimbulkan suara berisik di antara semak-semak. Ia menarik kedua kakinya dari air danau, memakai sandal merah mudanya, lalu mulai berjalan mendekati semak-semak secara hati-hati, mencoba agar tidak menimbulkan suara apapun.

Suara gemerisik semak-semak terdengar di telinga gadis itu ketika tangannya menggapai semak-semak yang tadi mencurigakan itu. Lipatan di keningnya semakin dalam. Tidak ada apapun, selain mata tajamnya yang secara tidak sengaja menangkap secarik kertas merah muda berbentuk hati di antara semak-semak itu. Alisnya terangkat, dan bibirnya sedikit mengerucut, pertanda ia sedikit bingung dengan apa yang ada di depan matanya.

          Can you listen to my words, don’t say anything yet…”

Gadis itu menggaruk bagian belakang tengkuknya yang tentu saja tidak gatal. Sedikit bingung, sekaligus marah. Bingung dengan kertas-merah-muda-bodoh-yang-dibuat-entah-oleh-siapa, marah karena hati kecilnya tidak berhenti bertanya-tanya apa maksud dari tulisan-bodoh ini. Ia kemudian kembali melangkahkan kakinya ketika secara tidak sengaja matanya menangkap secarik kertas yang serupa.

“          Actually I’m so insecure without you how do I live each day?…”

Gadis itu semakin mengerucutkan bibirnya, pertanda jika ia mulai bosan sekaligus kesal dengan semua kalimat-kalimat-bodoh tersebut.

“          I know you haven’t ended yet,…”

Hati gadis itu memaki-maki tak jelas seraya memasukan kertas-merah-muda-bodoh itu pada saku blazernya, lalu mulai berjalan lagi, menerobos semak-semak yang menghalangi jalannya.

“          But don’t cry over the empty space that I left …”

Gadis itu kembali mengangkat kedua alisnya, mengeluarkan keempat kertas-merah-muda-bodoh itu dari saku blazer, lalu menyusunnya di atas telapak tangan. Ia membaca ulang kata-kata-bodoh pada permukaan keempat kertas-merah-muda-bodoh itu dengan seksama. Otaknya memproses kata-kata-bodoh-pada-kertas-merah-muda-bodoh dengan sangat lamban, dan ia sangat kesal akan hal itu. Sebelah otaknya merasa familiar dengan tulisan-bodoh-pada-kertas-merah-muda-bodoh, sementara sebelahnya lagi masih tetap memproses, membongkar segala memori yang tersimpan di tempurung belakang kepalanya.

Gadis itu menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan, mencoba mengontrol emosinya yang mulai naik ke ubun-ubun saking kesalnya pada otak bodohnya yang sangat lamban memproses tulisan-bodoh-pada-kertas-merah-muda-bodoh. Sekarang juga ia merasa seperti déjà vu, dan juga … bodoh.

My heart only has you, your heart only has me …”

Gadis itu menoleh ke belakang. Suara lembut-yang-entah-milik-siapa telah menarik perhatiannya, namun keningnya berkerut ketika tidak mendapati apapun di sana. Ia mulai merinding, takut sesuatu akan terjadi padanya.

Similar sentiments, the proof of our love …”

Gadis itu lagi-lagi menoleh, kembali tertarik pada suara lembut yang seakan ditujukan padanya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling, namun tiba-tiba keningnya berkerut dan merasakan bulu kuduknya berdiri. Kemungkinan buruk itu semakin menghantuinya karena ia baru menyadari sesuatu ; lapangan basket. Sejak kapan aku ada di sini? tanya hati kecilnya, sementara otaknya mencoba mengingat-ingat apa yang telah ialakukan tadi. Ia merasa heran sekaligus bingung karena baru tahu kalau ada jalan yang menyambungkan antara lapangan basket dan danau’nya’. Hal ini membuatnya menyadari hal yang lain ; seseorang—atau mungkin banyak orang—yang telah mengetahui tempat ia biasa mendapatkan udara yang ‘sesungguhnya’.

The same sky, different place …”

Gadis itu menoleh lagi, lalu mendengus kecewa ketika tidak mendapati apa-apa di arah yang dilihatnya. Kemudian ia melipat kedua tangannya di depan dada, merasa penasaran dengan maksud orang untuk mengerjainya.

We’re separated for now, for this instant, something to never forget …”

Tiba-tiba gadis itu terdiam, merasa déjà vu lagi. Apakah ini lirik lagu? tanya batinnya yang mulai penasaran dengan apa yang tengah didengarkannya sekarang. Ia kembali memasang telinganya baik-baik, seakan jika ia melepaskan pendengarannya suara itu akan menghilang tanpa jejak.

Please remember …”

Suara gadis itu tercekat, napasnya terasa sesak, dan oksigen yang biasa dihirupnya dengan bebas secara tiba-tiba lenyap ketika mendengar lanjutan dari suara lembut-yang-entah-milik-siapa.

I will remember the love you gave me …”

Jantung gadis berdegup kencang, dan secara tiba-tiba ada gejolak-perasaan-aneh-yang-tidak-bisa-diungkapkan-oleh-kata-kata mulai menghampirinya.

No one can take over you …”

Gadis itu kembali menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, berniat untuk menahan gejolak rasa-yang-tidak-dapat-diungkapkan-oleh-kata-kata di dadanya yang semakin menggila.

That only love, I will keep in the bottom of my heart …

Gadis itu berjengit, ketika secara tiba-tiba semuanya gelap, dan berubah sunyi. Ia bisa merasakan napasnya memburu, entah karena takut atau karena ingin menangis. Ia meremas-remas kedua telapak tangannya hingga terasa perih, namun ia tidak peduli dengan hal itu. Berulang ia berusaha untuk menjernihkan pikiran serta menenangkan batinnya yang kini mulai bawel menanyakan suatu hal yang tidak dapat dimengerti ; alasan kegelapan dan kesunyian yang terjadi secara tiba-tiba.

Making you wait so long, I’m sorry …” suara itu terdengar berbarengan dengan sebuah lampu yang tiba-tiba menyorot tubuh ramping gadis itu. Ia merasa kaget dengan lampu yang menyorotnya itu, dan ia jadi merasa seperti sedang berada di sebuah pertunjukan seni musik teater atau pertunjukan ballerina yang sangat iaimpikan dari kecil, namun sayangnya, ini bukan pertunjukan seni musik teater ataupun pertunjukan ballerina, namun sebuah acara-yang-tidak-iaketahui-apa-nama-maksud-dan-juga-tujuannya atau mungkin sebuah acara untuk mempermainkannya di hari ulangtahunnya yang ke-19.

Tunggu dulu … gadis itu baru menyadari suatu hal ; ulangtahunnya yang ke-19. Hatinya tertawa karena kebodohannya yang baru saja mengingat bahwa hari ini ia berulangtahun yang ke-19, dan ia mulai yakin jika teman-teman sekampusnya sedang membuat sebuah ‘kejutan kecil’ untuk merayakan hari yang sangat ia tunggu-tunggu dari sebulan yang lalu.

In my life only you are most special …”

Gadis itu mengerjapkan matanya berulang-ulang, kemudian menguceknya keras-keras, mencoba menajamkan penglihatannya yang mungkin telah rabun. Penglihatannya mungkin sudah merabun, karena mana mungkin ia dapat melihat seorang pria-tengil-yang-bernotabene-rivalnya ini berada di depannya, dengan lampu yang juga menyorot tubuh atletis pria-tengil itu dengan sempurna.

My heart only has you, your heart only has me …”

Oh tidak, mungkin … pasti sekarang aku sedang bermimpi, elaknya dalam hati seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, karena tidak mungkin pria-tengil itu berada di depannya dengan mikropon di genggaman tangan kirinya dan juga suara gesekan bow biola yang mengiringinya bernyanyi. Tunggu dulu, .. bernyanyi? Pria-tengil itu bernyanyi? Oh, Tuhan … Tampar aku, mana mungkin dia bisa bernyayi dengan suaranya yang pas-pasan itu …, jeritnya dalam hati dengan ekspresi bodoh terpasang di wajahnya.

Similar sentiments, the proof of our love …”

Mata gadis itu mendadak membelalak ketika pria-tengil itu berjalan mendekatinya, tentu saja ia masih menyanyi dengan suaranya yang pas-pasan dan lampu yang tetap menyorotnya kemana pun ia melangkah.

The same sky, different place …”

Pria-tengil itu meraih tangannya, dan menggenggamnya lembut dengan tangannya yang bebas ketika telah berhadap-hadapan dengan gadis itu. Sementara gadis itu berdiri tepaku menatap makhluk ciptaan Tuhan yang sangat sempurna tepat di depan matanya ini, dan ia membiarkan pria-tengil itu menggenggam lembut tangannya sambil memberi sebuah tekanan pada tatapannya, dan itu membuatnya terhanyut dalam situasi.

We’re separated for now, for this instant, something to never forget …”

Pria-tengil itu berlutut, seraya menarik tangan gadis itu yang sedang digenggamnya. Ia lagi-lagi menatap gadis itu tepat pada manik matanya, penuh tekanan dan penuntutan. Ia meletakan mikropon yang sedari-tadi digenggam pada tangannya yang lain, kemudian meraih ‘sesuatu’ di dalam kantong celana jeansnya. Dan betapa terkejutnya gadis itu begitu menyadari sebuah kotak beludru hitam yang dikeluarkannya dari dalam saku jeansnya.

“Apa yang kamu keluarkan?” tanya gadis itu singkat, namun matanya tampak berbinar menatap ‘sesuatu’ yang telah dikeluarkan oleh si pria-tengil. Pria-tengil itu tersenyum misterius, membuka kotak beludru hitam yang iabawa, lalu tersenyum puas dengan ekspresi kaget yang ditunjukan gadis itu karenanya.

“Kamu … melamarku?”

“Pertanyaan bodoh,” Pria-tengil itu mendesis seraya bangkit, kemudian mengecup singkat dahi gadis itu,  “-pertanyaan bodohmu aku jadikan sebagai jawaban dari perlakuanku barusan, arrachi?” gadis itu terbelalak, mulutnya terbuka setengah, membuatnya menjadi tampak gadis paling bodoh di dunia.

Please remember …” pria itu menggenggam sebelah tangan gadisnya dengan sangat erat, seolah gadis itu akan pergi jika ia melepaskannnya, lalu dengan berat hati melepasnya sementara untuk memasangkan cincin pada jari manis gadisnya, sementara gadisnya itu masih dalam perasaan yang sulit digambarkan ; di antara terkejut, dan malu, karena apa yang telah terjadi padanya hari ini dan  terlalu banyak kejutan di dalamnya, sehingga kepalanya serasa akan meledak, namun dari semua kejutan yang iadapatkan hari ini, cincin dan juga momen inilah yang paling iasukai, yang menjadi favoritnya sepanjang masa.

Actually you understand right? Without you i can’t live, without me you can’t live. An almost torn heart, take a deep breath. Who said that hurt will slowly heal is empty words. SaranghaePlease remember, Darl …” bisik pria-tengil itu tepat pada telinga gadisnya, kemudian merengkuh gadisnya ke dalam pelukan hangat.

~.~

18 responses to “[FF Request] Puzzle of Life–Prologue

  1. Halooooooooooo…. pendatang baru di sini.

    cerita ini narasinya wah banget nih dan aku baca2 komentar di atas, ini authornya baru 13 taon?! O___O WAAAHH… *mendadak speechless*

    ini prolognya bikin penasaran banget, aku pengen tau siapa cowok itu. entah knp krn ada petunjuk kata ‘pria tengil’ itu, aku jd nebaknya itu hyukjae.😛

    ya udh, aku lanjut ke next part dlu aja deh ya..

    • Gyaaaaaaaa… *histeris sendiri baca nama acc-nya* Kak Shirae Mizuka!!!!!! Kyaaaaaaaaa… #plak *apadeh*

      Wkwkw~ selamat datang di blog-ku yang ancur ini, Kak^^ semoga betah ya… (?) hehehehe… eh, Umurku itu sebenernya 12 tahun loh… wkwkw~

      Hyukjae? Hummm… gak tau deh, aku masih bimbang pilih antara Hyukjae apa Donghae #nahlho?

      Oke deh kak^^ aku suka drabble-mu, bikin drabble yang banyak ya! LOL

  2. Pingback: [FF Request] Puzzle of Life–Chapter 2 (He’ll Leave Her … Again) « ❀ Warehouse of Fan Fictions ❀·

  3. Mau panggil apa aja boleh kok, Kak^^ asal jangan panggilan yang aneh” aja -__-V hehe…

    btw, makasih udah mau mampir dan mendaratkan sebuah komentar di sini ya Kak, aku tersanjung sekali, hehe… makasih juga buat pujian di atas, kalo boleh jujur, EYD-ku dulu gak sesempurna ini loh, kak, masih acak”an, tapi karena didikan dari Kak Dista sama Kak Irene, bisa jadi seperti ini, hehe… *nyengir*

    di poster memang ada dua cowo, jadi tinggal dipilih aja tuh mau yang mana yang ngelamar so cewenya (?) wkwkwk~ *ditimpuk*

    sering” mampir ya Kak, dan kita saling mention link di twitter, hehe… sekali lagi, makasih … *bow*

  4. Halo, Nisa? Boleh saia panggil begitu? Tulisanmu bagus sekali deh, nanti saia ingin mampir juga ke laman perkenalan. Tercengang banget deh, kamu masih muda sekali tapi tulisannya indah begini. EYD yang sempurna (umur 13 tahun saia nulis kae teenlit amatiran) /curcol /disambit. Poin plus di ff ini tentunya terletak di bagian narasi yang sangat deskriptif, pas banget untuk sebuah prologue karena nyatanya prologue emang diciptakan biar para pembaca penasaran dan yah, saia penasaran sekali nih siapa ya cowok itu? Di poster ada dua cowok. Nah, yang mana nih yang melamar sang cewek?

Speak Out!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s