[Random Writing Info] Tentang Point of View (POV) atau Sudut Pandang

POV

Tentang Sudut Pandang atau Point of View (POV)

Hallo … Glace datang dengan sebuah “Writing Info” tentang POV alias sudut pandang atau Point of View. Glace membuat tulisan ini untuk memberikan sedikit pengertian tentang POV yang Glace ambil dari satu sumber terpercaya yang menurut Glace akan mudah dipahami oleh kalian semua. Ini juga khusus buat khanis4musketeer yang menanyakan tentang haruskah dicantumkan POV tersebut atau tidak.

Tapi sebelum ke masalah inti, mari kita baca pengertian POV lengkap dari sebuah sumber;

Source : http://ilmucerdas.wordpress.com/

“… Setiap kita membaca sebuah tulisan, entah itu novel, cerpen, majalah atau komik sekalipun, kita pasti akan menemui unsur bacaan yang disebut sudut pandang. Sudut pandang adalah satu diantara unsur-unsur intrinsik dalam sebuah tulisan. Sudut pandang secara singkat dapat diartikan sebagai posisi atau penempatan penulis didalam cerita. Dalam konteks ini, pada saat tulisan tersebut dibaca maka peran penulis digantikan sebagai pembaca, berarti sudut pandang sebagai posisi pembaca didalam tulisan/cerita.

Sudut pandang secara garis besar dibagi menjadi 2 :

1. Sudut pandang orang pertama

2. Sudut pandang orang ketiga

(Apakah ada sudut pandang orang kedua? Bab ini akan dibahas setelah penjelasan kedua sudut pandang tersebut)

Sudut pandang orang pertama

Adalah keadaan seolah-olah penulis/pembaca menjadi tokoh utama didalam cerita, biasanya digunakan subjek “Aku, saya, diriku” dsb.

contoh : aku merasakan sesuatu yang hangat menerpa kulitku. Perlahan aku membuka sedikit-demi sedikit mataku. ‘Sudah siang’ batinku. Kutarik lagi selimut hangat ku untuk menutupi silau mentari yang telah mengusik tidurku…

Salah satu contoh diatas dikhususkan untuk sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama. Ada kalanya si pelaku utama tersebut menceritakan orang lain dalam hal ini sudut pandang tetap pada pelaku utama.

contoh : Aku terus mengikutinya berjalan tanpa sepengetahuannya. Atau mungkin dia tahu aku mengikutinya dan membiarkan begitu saja, aku tidak tahu. Tiba – tiba ia berhenti tanpa alasan yang jelas. Seketika aku panik harus bersembunyi dimana? Aku terlihat seperti orang bodoh, tapi aku hanya ingin tahu kemana arah tujuannya. Mau kemana dia.

Ada pula jenis penggunaan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan. Artinya, keadaan seolah-olah penulis/pembaca sebagai yang bercerita namun posisinya dalam cerita tidak sebagai pelaku utama.

contoh : Aku iri pada Angga, dia sahabatku, sekaligus orang yang kuanggap rival. Ia selalu lebih dilihat dari pada aku. Terkadang aku merasa benci dengannya, tapi ia juga selalu membantuku dalam segala hal. Terlebih kemarin, saat pentas seni. Aku melihatnya bersama Anita, gadis yang kusukai. Aku tak tahu harus mengalah lagi atau tidak. Aku menginginkan Anita, aku rasa dia juga mempunyai perasaan yang sama. Aku tidak menyalahkannya menyukai Anita, karena akupun tak pernah bercerita padanya bahwa aku menyukai Anita. Tapi mengapa setiap hal yang kusukai selalu saja ia sukai juga?

Sudut pandang orang ketiga

Adalah keadaan seolah-olah penulis/pembaca menjadi orang yang sedang menceritakan tokoh utama dalam tulisan/cerita.

Ada banyak variasi dalam menggunakan sudut pandang orang ketiga diantaranya

1. Sudut pandang orang ketiga diluar cerita serba tahu

2. Sudut pandang orang ketiga terbatas

Sudut pandang orang ketiga diluar cerita serba tahu adalah keadaan seolah-olah pelaku mengetahui semua yang dilakukan oleh semua tokoh dalam cerita, tetapi ia tidak terlibat dalam cerita.

contoh : Sore itu cukup kelam, nampaknya hujan akan segera mengguyur kota kecil yang tak dapat dipastikan keberadaan penghuninya tersebut. Angin pun terus bertiup dengan kencang menemani kegundahan hati seorang pemuda yang berjalan beriringan dengannya. Pemuda itu terlihat kusut dibalut dengan seragam putih-abu-abu nya yang penuh noda dan darah, tertulis sebuah tanda pengenal pada dada bidangnya, Angga Prasetya. Ia tidak tahu harus pergi kemana, karena memang ia tidak mengenal tempat dimana ia berada sekarang. Beberapa puluh meter setelah ia berjalan ia melihat sesosok manusia yang entah iapun tidak tahu siapa.

“Hey” teriaknya dari kejauhan. Namun yang ia dapat hanya kebisuan. Ia mempercepat langkahnya untuk menghampiri sosok itu. Namun ternyata sosok itu hanyalah sebuah patung tak bernyawa.

Penjelasan : pencerita dapat mengatakan apa yang sosok Angga pikirkan, itulah yang saya mahsud dengan serba tahu dan dalam penggalan cerita diatas pencerita tidak termasuk dalam tokoh.

Kebalikannya, sudut pandang orang ketiga terbatas hanya dapat menceritakan tokoh-tokohnya secara objektif (hal-hal yang dilakukan tokoh) tidak dapat mengetahui pikiran dan apa yang dirasakan tokoh.

Selanjutnya, adakah sudut pandang orang kedua?

Mungkin anda akan berpikir kalo penggunaan cara bercerita dengan menggunakan subjek “Engkau, Kamu” maka berarti itu memiliki sudut pandang orang kedua. Tapi aslinya tidak demikian.

Coba cermati dan pahami penggalan cerita di bawah :

Kau terduduk lesu di sudut kamarmu, Kau menangis. Kau tahu hatimu tidak menginginkan hal ini, tapi kau tetap harus menjalaninya. Menjalani hari-hari yang menurutmu seperti neraka. Padahal kau yakin kau tidak bersalah. Kau terlalu lemah bahkan untuk mengatakan tidak kaupun tidak bisa.

Hm, bagaimana bisa menyimpulkan ini termasuk sudut pandang siapa? Di sini pencerita menceritakan keadaan tokoh “Kau” dan pencerita tidak termasuk dalam cerita. Penggalan cerita diatas menggunakan sudut pandang orang ketiga diluar cerita. Namun akan berbeda jika si pencerita menyertakan dirinya dalam cerita, maka sudut pandang yang digunakan menjadi sudut pandang orang pertama.

contoh : Aku melihat kau terduduk lesu di sudut kamarmu, Kau menangis. Kau tahu hatimu tidak menginginkan hal ini, tapi kau tetap harus menjalaninya. Menjalani hari-hari yang menurutmu seperti neraka. Padahal kau yakin kau tidak bersalah. Aku pun yakin kau tidak bersalah. Kau terlalu lemah bahkan untuk mengatakan tidak kaupun tidak bisa. Tapi, kenyataannya akulah yang lebih lemah, aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa melihatmu menderita.

Hm, sekian yang dapat saya pahami tentang sudut pandang. Alasan kenapa saya tertarik menulis ini, karena beberapa waktu yang lalu saya dan teman saya yang hobi buat cerpen berdebat tentang ada tidaknya sudut pandang kedua. Saya mendiskusikan hal ini terlebih dahulu dengan Guru Bahasa Indonesia saya dahulu sebelum saya posting. Menurut beliau juga sudut pandang orang kedua itu tidak ada.

Terimakasih untuk Pak Suwardi (guru saya) atas bantuannya.

Hahh…selesai..

Salam cerdas

Penulis, Iin

~.~

Baiklah, apa yang kalian temukan di sana? Yups! Pengertian tentang ketiga jenis POV. Sebetulnya sampai saat ini Glace masih belum mengerti apa itu POV 2, jadilah Glace belum berani membuat tulisan dengan menggunakan POV 2, hehe …

Oke, back to topic. Menjawab pertanyaan khanis4musketeers di page “Studying Room” di blog pribadi Glace, Glace akan coba uraikan apa yang harus Glace jelaskan agar kalian mengerti.

Q : Tapi di beberapa blog yang mencantumkan kayak pengertian Fan Fiction itu ada POV. Jadi sebaiknya pake POV gak Unni?

Baiklah, Glace coba jelaskan dari awal. Di pengertian POV oleh Kak Lin di atas, di awal pembukaan artikelnya, tertulis tentang keseringan kita menemukan suatu unsur dalam tulisan, baik itu novel, majalah, atupun sebagainya yang disebut dengan sudut pandang atau POV. Dan yang Glace maksud di Studying Room poin satu adalah tentang penghapusan kata “POV” atau pemberitahuan tentang siapa yang sedang bercerita situasi dalam cerita tersebut, bukan penghapusan POV alias sudut pandang itu sendiri. Menurut Glace sendiri, POV atau sudut pandang itu sangat dibutuhkan dalam suatu tulisan, karena—seperti yang ditulis di atas—sudut pandang secara singkat dapat diartikan sebagai posisi atau penempatan penulis didalam cerita., dalam konteks ini, pada saat tulisan tersebut dibaca maka peran penulis digantikan sebagai pembaca, berarti sudut pandang sebagai posisi pembaca didalam tulisan/cerita.

Belum mengerti? Baiklah Glace coba kasih contoh dengan membuat sepotong cerita dengan dua sudut pandang;

Suara desiran angin terdengar berhembus sedikit kencang, memberikan aksen horror pada suasana malam yang kelam ini. Aku melangkahkan kakiku dengan perlahan dan berusaha menghilangkan rasa takut yang terus menyergapiku. Tak sadar, kaki ini telah membawaku untuk menyebrangi sebuah sungai lebar. Aku mendesah, bagaimana aku dapat menyebranginya? hatiku bertanya-tanya. Hingga tak lama, sebuah pelangi terbentuk menjadi jembatan yang akan membantuku menyebrangi sungai ini.

Kepalaku terangkat begitu mencappai tengah dari jembatan pelangi ini. Kedua ujung bibirku tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman ketika mata ini menangkap seorang gadis bersayap putih bersih tengah mengayunkan tongkatnya seraya berkomat-kamit membaca mantera.

~.~

Mataku menyipit melihat seseorang berada di sisi lain tepian sungai ini. Aku sedikit tertegun melihatnya. Bagaimana mungkin seorang manusia berada di sini? batin kecilku bertanya-tanya ketika menyadari bahwa dia adalah seorang manusia, bukan seorang makhluk fantasi sepertiku. Segera kuayunkan tongkat di tanganku dan membaca sebuah mantera.

Voila! Sebuah jembatan pelangi terbentuk tepat di hadapan manusia itu. Kulihat ia tampak kebingungan untuk beberapa saat, tapi kemudian, ia segera berjalan menyebrangi sungai ini dengan jembatan pelangi yang telah aku bentuk.

Ia berhenti di tengah-tengah. Kulihat tatapan matanya tertuju padaku, makhluk fantasi yang tidak akan pernah dapat ditemukannya di dunia manusia.

Melihat ada sesuatu yang “hilang”? Yups! Keterangan tentang siapa yang tengah berbicara mengenai situasi di dalam cerita tersebut. Dan inilah yang Glace maksudkan di Studying Room poin satu, bukan tentang penghapusan POV atau sudut pandang itu sendiri, melainkan keterangan tentang siapa yang tengah berbicara mengenai situasi di dalam cerita tersebut atau yang biasa Glace temukan di banyak FF adalah; “Author’s POV”, “Kyuhyun’s POV”, “Yoogeun’s POV”, dan sebagainya.

Q : Bukankah dengan dihilangkannya tulisan itu maka pembaca akan bingung?

Nah, kalo masalah itu, mari kita kembalikan saja pada pembacanya tersendiri, dan juga akan kesadaran kita untuk membuat narasi lebih deskriptif untuk memberikan sedikit “clue” tentang siapa yang tengah berbicara, terutama pada dialog yang biasanya akan langsung membongkar siapa yang tengah berbicara tersebut.

Q : Tapi bagaimana jika dalam cerita itu sangat banyak sudut pandang yang dipakai? Belum lagi jarak penggunaan sudut pandang satu dengan yang lainnya sangat dekat (mis : satu sudut pandang satu paragraf) dan jika hanya dipisah dengan tanda baca, bukankah itu akan membuat kening pembaca berkerut sebagai ekspresi dari kebingungannya?

Glace pernah membicarakan ini bersama Kak Irene Faye. Ketika Glace menyakan tentang hal ini, ia menjawab dengan sangat enteng tapi nada menyindir,

“Jadi penulis itu musti konsisten, Nissa …”

Nah loh, .. yang dimaksud sama konsisten di atas apa ya? Ketika Glace tanyakan lebih lanjut, ternyata yang dimaksudkan di atas itu adalah tentang kekonsistenan penulis dalam mengambil sudut pandang.

Q : Penulis seperti apa yang dinilai konsisten saat mengambil sudut pandang?

Kalau ditanya seperti itu, relatif ya jawabannya, tapi Glace akan menjawab satu atau paling banyak tiga orang, itu pun jaraknya cukup jauh dan terpaut hampir lebih dari tiga sampai lima halaman. Kenapa? Alasan utamanya justru agar dinilai konsisten dan agar pembaca juga tidak bingung jadinya.

Selain itu, untuk Glace pribadi, Glace selalu berusaha mempertahankan dengan menggunakan satu sudut pandang dari awal cerita hingga akhir. Dan, ah iya, mungkin ini jawabaan yang paling tepat jika Glace ditanyakan tentang sudut pandang yang loncat-loncat.

Sc : IreneFaye’s Comment on her Tips-Tips Kepenulisan

Sebenarnya POV ini kalau loncat-loncat semuanya dilempar balik ke penulisnya, seberapa jago dia mengeksekusi perpindahan POV dari satu orang ke orang lain.

Ada yang POVnya berpindah saat perpindahan Chapter–ini teknik paling mudanya. Ada juga yang Povnya berpindah dalam penggantian scene. Dalam cerpen terbaru saya yang judulnya Jubah Mimpi Reve, saya juga menggunakan penggantian POV–dari POV1 ke POV 3 Dan di dalam Marrying a Stranger saya selalu mengubah sudut pandang saya dari sisi Rion ke Jesse dan sebaliknya. Pada dasarnya pembaca pasti tahu kalau POV telah berubah. Klo emang mereka malah bingung, itu artinya perpindahan POVmu kurang halus, dan harus diperhalus lagi agar pembaca gak kaget.

Karena itulah pemberian tahu POV itu sama sekali gak diperlukan.^^

Sudah jelas? Semoga ya^^ kalo ada yang kurang silakan tambahkan di kolom komentar, atau ada yang belum dimengerti? Silakan juga tuliskan di kolom komentar apa yang belum dimengerti. Glace siap menjawabnya^^

Love,

Nissa Tria (Glace)

37 responses to “[Random Writing Info] Tentang Point of View (POV) atau Sudut Pandang

  1. Wah, artikel yang sangat bermanfaat saeng, tbh :3
    memang, sedikit susah untuk menggunakan POV penulisan yang baik.. di satu sisi, kalau ingin jelas, enaknya memang menggunakan POV orang pertama pelaku utama..
    tapi, kalau untuk aku kendala pakai POV pelaku utama, lebih ke perasaan sih ya -__- aku ngga bisa pakai POV pertama..

    dan kebanyakan, author kalau udah pakai POV pertama, pasti suka ganti-ganti POV -_- dan itu cukup membuat messy yah..
    apalagi kalau ada tulisan “POV SeungRa”, itu aja udah menambahkan poin minus cerita itu..

    okeh, maaf kenapa aku jadi curhat gini sih -_- anyway, makasih glace udah sharing ilmu bermanfaat ini :3

    • Wah, thanks kalo bermanfaat^^)/
      Iya memang sulit sekali-_- aku kalo nulis lbh suka pake pov orang ketiga serba tahu aja, jadi gak usah repot-repot(?) ganti pov, hehe…
      Aku juga gak bisa pake pov pelaku loh, jujur. Agak susah, soalnya aku jarang pake pov itu u_u
      Tentang perpindahan pov itu, tergantung penulisnya, Zuky~^^ tergantung kelihaian(?) dia dalam menuliskan perpindahan pov dengan halus agar pembaca tidak bingung dan messy itu tadi. Tapi… selihai apapun dia dalam menulis perpindahan pov tadi, kalo misalkan dalam satu fiksi/chapter dia pindah pov-nya sampe lima kali atau lebih, ttp aja bikin gak enak dibaca u_u
      Iyaa… aku suka gereget sama author yg nulis gituan-_- kesannya gimanaa… gitu u_u
      Pas waktu itu aku ke grup di watty, mereka asyik ngomongin tulisan “pov” itu. Kan ada yg nanya itu asal-muasal pake gituan(?) dari mana, ada yg jawab; “dari fanficer di wordpress.” <~ jawaban yg jleb ;_;
      Tak apalah, Zuky~~^^ aku juga curhat di atas *lirikkomen*
      Yeaaa… masamaa~~ nanti aku tambahin yg lain deh^^

      • Nah ya itu! tapi, sehalus apapun, pasti kelihatan lah kalau dia perpindahan POV terus -_-
        oh ya aku tanya nih sama kamu..

        kalimat; aku tahu orang itu. Dia kan Si Bungsu. (yang aku tanyakan: kata Si-nya di kapitalisasi atau ngga?)

        lagi-lagi dong, “Iya, aku tahu, Paman.” (yang aku tanyakan: huruf p dari kata pamannya itu dikapitalisasi? maksudku, ditulis besar? atau ditulis kecil?

        ah, lagi dongg~ kalimat; “Hyung sangat mencintai Jung Ah Noona!” (yang aku tanya: kalimat Noona, huruf N-nya di tulis besarkah? atau di tulis kecil?

        hehe, makasih kalau udah mau menjawaaab Pandaa Cantikk :)

      • aku bingung harus jawab apa ;_; #jedar tapi… ini aku jawab berdasarkan “menurutku” yah, tanpa alasan pula -_-
        Buat yg pertama sih kayaknya(?) gak ush dikapital aja, seingetku di kamus juga gitu. Penulisan “si” kan dipisah dar kata yg mengikutinya dan ditulis tidak dikapital, kecuali di awal kalimat/paragraf.
        Nah, buat yg paman itu, menurutku dikapital aja(?). Soalnya itu kan kata ganti orang(?) *alasan ngawur-_-*
        Baru yg ketiga ini aku yakin tujuh puluh lima persen #plaks buat penulisan “Nuna”, “Oppa”, dsb. itu dikapital, baik itu sebelumnya ada nama seseorang (mis. Minho Oppa), maupun enggak.
        Jawaban ngawur yg absurd selesaaai ↖(^ω^)↗ *emotapaitu-_-* itu hanya menurutku loh, Zuky. Aku gak sempet buka kbbi sebelum jawab ini, jadi maaf kalo ternyata ini salah u_u”)V

  2. Wahhh setuju sama Glace!
    Aku kurang enak bacanya kalau povnya itu dikasih tau… ._.v
    aku lebih suka kalau povnya itu satu aja….
    btw bahasamu tinggi juga :)

      • XD aku juga aneh gitu bacanya…. (?)
        aku juga sering baca ff yang pake bahasa berat dengan sastranya tinggi…
        tapi ff-ku pake bahasanya yang ‘lumayan’ tinggi, ga tinggi2 amat…

      • Iya juga sih… aku selalu berusaha buat bikin teenlit yang bahasanya gak setinggi menara eiffel(?) Tapi nyatanya gak semudah itu -_- udh kebiasaan kali ya, jadi agak susah merubahnya ._.

  3. wah, tulisan yang panjang tapi bermanfaat bangeet^^
    dulu(mungkin kamu gainget) aku pernah main kesini dan menanyakan poin kedua. tapi, tetep aku coba ngilangin pov nya dan alhamdulilah ga ada pembaca yang bingung^^ karena aku siasatin dikit hehe. makasih ya ilmunya glace(ak panggil glace yah?) dan salam kenal.

  4. Tanya lagi!!! #ReadersBawel :D
    Penjelasan : pencerita dapat mengatakan apa yang sosok Angga pikirkan, itulah yang saya maksud dengan serba tahu dan dalam penggalan cerita diatas pencerita tidak termasuk dalam tokoh >> Apakah ini sama dengan “Author POV?”

      • hihi xD awalnya FF ku emang ga pernah pake POV alias sudut pandang krn waktu penjelasan sm guru bahasa pun aku ga ngeh juga -_- Tapi lama kelamaan aku baca FF orang, kok isi POV2an(?) nya, akhirnya aku ngikutin pake begituan juga n aku ngerti yg namanya sudut pandang ^o^ <– girang #abaikan
        jadi ternyata cara awalku bikin FF yg lebih bener T^T untung aku nyasar ke wp mu glacee #hugg glace moah :3 xDxD

Speak Out!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s